Tadabbur Al-Ma'idah 71–82
Keyakinan bahwa Isa menyatu dengan Allah dan bahwa Allah salah satu dari tiga dibantah, disertai larangan berlebihan dalam beragama dan gambaran sikap Yahudi serta Nasrani terhadap kaum mukmin.
Ayat 71 masih menjelaskan cara pandang Ahlul Kitab yang keliru. Mereka mengira, dengan berbagai dosa dan pembangkangan yang mereka lakukan, tidak akan mendapat azab dan bencana. Padahal bencana turun kepada mereka silih berganti. Namun hanya sedikit diantara mereka dapat mengambil pelajaran, karena kebanyakan mereka sudah buta dan pekak.
Ayat 72-76 menyoroti kekeliruan akidah Ahlul Kitab. Keyakinan mereka bahwa Isa menyatu dengan Allah (wihdatul wujud) adalah kekufuran. Padahal Nabi Isa menyeru mereka untuk menyembah Allah saja sebagai Tuhan Penciptanya dan juga mereka. Siapa saja yang menyekutukan Allah maka Allah mengharamkannya masuk surga dan akan masuk ke dalam neraka sebagai balasan dari perbuatan zalim (kemusyrikan) yang mereka lakukan.
Demikian juga telah kafir orang yang meyakini Allah itu Tuhan yang ketiga dari yang tiga (trinitas). Tuhan yang berhak disembah itu hanya satu. Kalau mereka tidak berhenti mengatakan hal yang demikian (trinitas), pasti mereka akan ditimpa azab yang pedih. Sebaiknya merelka bertobat kepada Allah dan meminta ampun pada-Nya, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Isa Al-Masih putra Maryam itu tidak lain dari seorang Rasul. Sebelum beliau sudah ada beberapa Rasul lainnya. Ibunda Maryam itu adalah wanita yang jujur dan benar keimanannya. Keduanya (Maryam dan Isa) sama-sama butuh makanan. Apakah tuhan perlu makanan? Isa dilahirkan tanpa bapak itu adalah salah satu tanda Kekuasaan dan Kebesaran Allah semata. Sama halnya sewaktu Allah menciptakan Adam langsung dari tanah, tanpa ada media manusia sedikitpun. Mengapa mereka bisa berpaling dari kebenaran.
Sebab itu tiada yang pantas menjadi Tuhan yang disembah dan ditaati selain Allah yang memberi manfaat dan menahan dari mudarat. Allah adalah Mahakuasa, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
Ayat 77 memerintahkan Nabi Muhammad saw. agar mengingatkan Ahlul Kitab untuk tidak ghuluw (berlebihan) dalam memahami dan menga`malkan agama. Agama itu sudah ditetapkan Allah. Tidak perlu ditambah, dikurangi atau diubah-ubah. Perbuatan seperti itu hanya akan sebabkan kesesatan seperti yang terjadi pada umat terdahulu.
Ayat 78-82 menjelaskan beberapa perilaku buruk Ahlul Kitab berikut :
Subahanallah. Kebenaran poin 4 ini dapat kita saksikan hari ini, baik di negeri-negeri Islam seperti Indonesia dan sebagainya, maupun di Eropa dan Amerika. Di mana-mana, yang menjadi biang keladinya adalah Yahudi. Sebaliknya, tidak sedikit kaum Nasrani yang masuk Islam setelah mendengar atau membaca Al-Qur’an.
Memuat versi lengkapnya…