Hari ke-10: Tadabbur Surah Al-Baqarah Ayat 113-126

Ayat 113 dan 114 menjelaskan karakter buruk lain dari kalangan Ahlul Kitab seperti, kalangan Yahudi menafikan kebenaran kalangan Nasrani dan begitu juga sebaliknya. Padahal mereka sama-sama membaca Al-Kitab, Taurat dan Injil. Allah akan berikan keputusan terhadap apa yang mereka perbantahkan itu pada hari kiamat nanti.

Mereka juga berupaya melarang orang lain untuk datang ke masjid-masjid Allah untuk beribadah. Perbuatan itu mendapat ancaman dari Allah berupa kehinaan di dunia dan neraka di akhirat kelak. Mereka juga menuduh Allah mempunyai anak. Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan. Dia Pemilik langit dan bumi. Bila Dia berkehendak menciptakan sesuatu, maka Dia hanya berkata : Jadilah. Maka jadilah ia.

Orang-orang yang tidak berilmu dari kalangan kaum musyrik Mekah mengatakan akan beriman kepada Rasul saw. jika Allah bicara dengan mereka atau mendatangkan bukti kekuasaan-Nya. Hal seperti ini juga dikatakan oleh umat-umat sebelum Muhammad saw. Nyatanya, setelah bukti-bukti kekuasaan Allah datang, mereka tetap tidak beriman. Sebenarnya, hati mereka tidak bisa memahami kebenaran wahyu yang di bawa Nabi Muhamad saw. Sungguh Allah telah jelaskan berbagai bukti kekuasaan-Nya dalam Al-Qur’an bagi orang-orang yang mau meyakininya.

Allah mengutus Muhammad saw. sebagai Rasul-Nya dengan Al-Qur’an yang hak, membawa berita gembira bagi kaum mukmin yang beramal saleh dan peringatan bagi kaum kafir dan tidak mampu mentaati Allah dan Rasul saw. Rasul Saw. tidak akan dimintai pertanggung jawaban atas para penghuni neraka itu, karena telah menunaikan amanah risalah Islam dengan sempurna.

Ayat 120 – 123 masih menjelaskan karakater Ahlul Kitab, yakni Yahudi dan Nasrani. Mereka tidak rela terhadap Nabi Muhammad saw. dan umatnya dan selalu berupaya agar umat Islam murtad dari Islam. Sebenarnya Ahlul Kitab tersebut hanya mengikitu hawa nafsu, bukan didasari wahyu dari Allah, padahal mereka membacanya. Wahyu Allah itu adalah nikmat-Nya yang terbesar untuk mereka. Disayangkan, mereka menolaknya.

Sedangkan ayat 124-126 menjelaskan tentang kesuksesan Ibrahim as melewati ujian dari Allah. Maka Allah menjadikannya pemimpin bagi manusia sampai akhir zaman melaui syariat ibadah haji yang diajarkan padanya dan puteranya Ismail dan Ka’bah yang mereka bangun sebagai Kiblat umat Islam sampai kiamat serta kota Mekkah yang menjadi pusat negeri Islam.

Allah menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim membangun kota Mekah itu dengan visi yang jelas, yakni menjadi sebuah negeri yang aman. Aman bagi manusia mentauhidkan Allah dan menjalankan sistem-Nya. Salah satu faktor menjadi negeri yang aman ialah terwujudnya kesejahteraan ekonomi rakyatnya. Namun, kesejahteraan ekonomi tersebut hanya akan berarti di mata Allah jika didasari iman pada-Nya dan pada akhirat. Kalau tidak, hanya akan menyebabkan penduduknya sengsara di dunia dan akhirat.

 

Tafsir Ibnu Katsir

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply