Hari ke-167: Tadabbur Surah Maryam Ayat 1-11

Ayat 1 surah Maryam diawali dengan 5 huruf Hijaiyyah (huruf Arab), yaitu, kaf, ha, ya, ‘ain dan shad. Dalam Al-Qur’an terdapat 29 surah yang awalnya dimulai dengan gabungan beberapa huruf seperti ini. Tidak ada yang mengetahui maknanya kecuali hanya Allah. Rasul saw. tidak pernah menjelaskan maksudnya. Demikian juga para sahabat Rasul saw. yang kepada mereka Al-Qur’an diturunkan pertama kali, tidak pernah menjelaskan apa maksudnya. Sebab itu, jumhur ulama tidak berani menafsirkannya. Mereka hanya mengatakan: Allah-lah yang Mengetahui maksudnya.

Ayat 2 – 11 menjelaskan sebuah kisah yang amat menarik, yakni Nabi Zakaria. Nabi Zakaria salah seorang hamba yang disayangi Allah. Terbukti, doanya untuk mendapat keturunan yang akan mewarisi hartanya dan mewarisi kenabian dari keluarga Yakub dikabulkan Allah kendati ia sudah tua bangka dan kepalanya diputihi uban, bahkan istrinya mandul pula.

Allah kabulkan doa Zakaria dengan memberinya seorang anak bernama Yahya. Sebagai manusia, Zakaria kaget melihat istrinya yang mandul itu hamil. Allah pun menjawabnya: Bagi Tuhan Penciptamu sangat mudah. Bukankah Aku ciptakan engkau wahai Zakaria sebelumnya dari tidak ada?

Maka, Zakaria sangat yakin dengan firman Allah tersebut. Namun demikian ia meminta kepada Allah diberikan tanda ia akan mendapat keturunan. Allah menjelaskan tandanya ialah Zakaria tidak bicara dengan kaumnya selama tiga malam. Kemudian ia keluar dari mihrab (tempat ibadahnya) sambil memberikan isyarat agar kaumnya bertasbih kepada Allah di waktu pagi dan petang.

Hikmah yang dapat kita ambil dari pengalaman hidup Nabi Zakaria ialah:

  1. Nabi Zakaria adalah salah seorang hamba yang mendapatkan kasih sayang Allah sehingga melahirkan keturunan yang baik dan mewarisakan kenabian.
  2. Doa kepada Allah adalah keuatan yang dapat melahirkan mukjizat, seerti mengubah lelaki tua bangka menjadi produktif kembali dan wanita tua yang mandul menjadi subur sehingga dapat melahirkan seorang anak dengan normal seperti wanita muda lainnya. Sebab itu, Rasulullah Saw. menyebut doa itu sebagai senjata seorang Mukmin. Pada kesempatan lain beliau menyebutnya otaknya ibadah.
  3. Merancang generasi yang akan meneruskan misi menauhidkan Allah adalah kewajiban setiap orang tua.

Sumber: Mushaf Tadabbur, Fathuddin Ja’far

 

Tafsir Ibnu Katsir

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply