Hari ke-174: Tadabbur Surah Thaha Ayat 65-87

Ayat 65-76 meneruskan kisah pertarungan Musa dengan para tukang sihir Fir’aun. Para penyihir itu disuruh Musa memulai aksi sihir mereka. Lalu, tali-tali yang mereka lemparkan seakan menjadi ular yang merayap. Sebagai manusia, Musa  merasa takut. Ketika itu Allah wahyukan kepada Musa agar tidak takut dan segera lemparkan tongkat yang ada di tangannya karena Allah akan jadikan tongkat tersebut ular besar yang akan menelan semua ular palsu para penyihir itu. Tidak akan ada seorang pun penyihir itu yang menang.

Setelah ular-ular mereka ditelan ular besar yang berasal dari tongkat Nabi Musa, maka para penyihir Fir’aun pun kalah dan mereka sujud tersungkur dan mendeklarasikan keimanan pada Allah.

Kejadian tersebut menyebabkan Fir’aun syok dan murka serta mengancam mereka dengan hukuman berat, yakni disalib di pohon-pohon kurma. Tanpa diduga, jawaban mereka sangat berani dan tegas: Silakan hukum kami dengan apa saja. Anda hanya bisa menghukum  kami di dunia. Kami beriman kepada Allah agar kami meraih ampunan-Nya atas dosa-dosa kami yang begitu banyak dan besar. Di akhirat nanti, para pembangkang Allah akan masuk neraka Jahanam, kekal selamanya. Orang beriman dan beramal saleh masuk surga Adn yang mengalir di bawahnya berbagai sungai. Balasan bagi orang yang bersih dari syirik.

Ayat 77 – 79 meneruskan kisah kesombongan Fir’aun terhadap kebenaran yang dibawa Nabi Musa dan Harun. Kendati para tukang sihirnya sudah beriman melihat kebesaran dan kekuasaan Allah, Fir’aun tetap saja membangkang dan ingin membunuh Musa dan para pengikutnya.

Allah wahyukan kepada Musa agar segera  membawa lari para pengikutnya di malam hari ke arah laut merah yang akan dibelah agar Musa dan para pengikutnya bisa melewatinya dengan selamat. Sebab itu tidak perlu takut akan disusul Fir’aun dan pasukannya karena  mereka akan ditenggelamkan di sana. Di sanalah peristiwa tragis kehidupan Fir’aun akan berakhir. Fir’aun hanya bisa menyesatkan kaumnya dan tidak membantu mereka mendapat petunjuk Allah dan bahkan menghalangi mereka agar beriman kepada Musa dan Allah Tuhan Pencipta mereka.

Ayat 80-87 mengingatkan Bani Israil akan berbagai nikmat yang Allah berikan kepada mereka. Di antaranya, Allah selamatkan mereka di Laut Merah dari kejaran Fir’aun, dapat makanan dari surga dan sebagainya. Sebab itu, jangan sekali-kali menyekutukan Allah karena kemusyrikan itu amat dimurkai-Nya. Namun, mental mereka sudah rusak akibat jajahan Fir’aun atas mereka berabad dan mereka tetap tidak mau menauhidkan Allah. Samiri, sahabat mereka mengajak mereka membuat patung anak sapi dari perhiasan emas yang mereka bawa dari Mesir. Musa sangat marah atas perilaku syirik mereka tersebut.

Sumber: Mushaf Tadabbur, Fathuddin Ja’far

 

Tafsir Ibnu Katsir

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply