Hari ke-207: Tadabbur Surah Asy-Syu’ara Ayat 137-182

Hari ke-207: Tadabbur Surah Asy-Syu’ara Ayat 137-182

Ayat 137-140 meneruskan kisah Hud dan kaumnya yang sangat sulit memahami kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya Mereka mengatakan, agama kami ini adalah hasil peninggalan nenek moyang  dan kami tidak akan disiksa karenanya. Karena mereka membanggakan kemusyrikan dan kekafiran, maka Allah binasakan mereka. Semoga kisah pemusnahan kaum ‘Ad ini menjadi pelajaran bagi manusia yang lahir setelah mereka. Sungguh Allah Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.

Ayat 141-159 menjelaskan kisah kekufuran kaum Tsamud. Nabi Saleh yang Allah utus kepada mereka menjelaskan bahwa ia adalah Rasul Allah tepercaya. Sebab itu ia meminta mereka bertakwa pada Allah dan menaatinya dengan tanpa mengharapkan imbalan dunia apa pun dari mereka. Cukup Allah yang akan membalasnya. Nabi Saleh mengingatkan agar mereka tidak mengira akan dibiarkan tinggal dengan aman di negeri itu, di kebun-kebun yang di dalamnya mata air, berbagai tanaman dan pohon kurma yang indah dan rumah-rumah gunung yang dipahat. Nabi Saleh juga mengingatkan mereka agar tidak mengikuti  perintah penguasa yang zalim dan pemuka msyarakat yang hidup melampau batas, karena mereka hanya merusak di atas bumi dan bukan memperbaikinya.

Nasihat dan ajakan kebaikan Nabi Saloeh itu dibalas mereka dengan jawaban yang sama dengan jawaban kaum Ad sebelumnya dan menuduh Nabi Saleh kena sihir seraya berkata:  Anda manusia biasa saja dan sama dengan kami. Coba datangkan sebuah mukjizat jika Anda benar, kata mereka kepada Saleh. Nabi Saleh menjawab: Ini unta betina yang mendapat jatah minum sebagaimana kalian. Jangan diganggu unta itu, nanti kalian akan mendapat azab besar. Lalu, mereka menyembelihnya, maka azab Allah pun datang. Peristiwa itu sebagau pelajaran bagi manusia.  Sungguh Allah Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.

Ayat 160-175 menjelaskan kisah kekufuran kaum Luth. Mereka menolak kerasulan Luth sebagaimana kaum A’ad dan Tsamud sebelumnya. Mereka  tidak mau bertakwa kepada Allah dan menaati Nabi Luth. Di samping menyekutukan Allah, mereka melakukan dosa besar homoseksual dan meninggalkan kaum wanita sebagai pasangan hidup yang diciptakan Allah. Mereka mengancam Nabi Lut dengan mengusir beliau jika tidak berhenti mendakwahi mereka ke jalan  Allah. Nabi Luth tidak surut sedikit pun dan bahkan dengan berani menyatakan kebenciannya terhadap perilaku seks menyimpang itu dan berdoa agar Allah menyelamatkannya dan keluarganya dari perbutan keji itu. Lalu Allah selamatkan ia dan keluarganya, kecuali istrinya yang sudah tua dan pengkhianat itu. Kemudian Allah hancurkan semua kaumnya dengan mengirimkan hujan batu panas. Peristiwa penghancuran kaum Lut itu selayaknyalah menjadi pelajaran bagi manusia setelah mereka. Sungguh Allah Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.

Ayat 176-183 menceritakan penduduk Aikah (Madyan) yang menolak kerasulan Syuaib, tidak mau bertakwa pada Allah dan taat pada nabi mereka. Pada hal, seperti nabi-nabi sebelumnya,  Nabi Syuaib tidak mengharap upah apa pun dari mereka. Di samping melakukan syirik kepada Allah, mereka curang dalam timbangan, ukuran dan takaran. Sebab itu, mereka merusak sistem ekonomi sehingga dianggap Allah sebagai perusak di atas muka bumi.

 

Tafsir Ibnu Katsir

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Amaliyah
Logo