Hari ke-224: Tadabbur Surah Al-Ankabut Ayat 39-45

Ayat 39 dan 40 masih meneruskan kisah kaum-kaum durhaka pada Allah dan rasul-rasul-Nya. Di antaranya Qarun, Fir’aun dan Haman. Musa datang kepada mereka membawa ayat-ayat kebesaran Allah dan wahyu-Nya. Mereka menanggapinya dengan kesombongan. Lalu Allah musnahkan mereka dan tidak satu pun di antara mereka dapat lolos. Allah musnahkan kaum tersebut berdasarkan  dosa-dosa yang mereka lakukan.  Ada yang Allah siksa dengan hujan batu kerikil panas seperti kaum Nabi Luth, dengan halilintar sperti kaum Nabi Saleh, dengan dibenamkan ke dalam bumi seperti Qarun dan ada pula dengan ditenggelamkan ke dalam air seperti kaum Nabi Nuh. Siksaan tersebut bukan karena Allah menzalimi mereka. Akan tetapi, merekalah yang menzalimi diri sendiri dengan melanggar sistem yang Allah ciptakan untuk keselamatan diri mereka sendiri.Ayat 41-45 menjelaskan rapuhnya ideologi kemusyrikan (menyekutukan Allah)dan kuatnya ideologi Tauhid (mengesakan Allah). Kemusyrikan ibarat sarang laba-laba; mudah dibangun dan mudah pula hancurnya. Sayang sekali kaum musyrikin itu tidak mau memahaminya dengan baik. Sedangkan ideologi Tauhid itu dibangun di atas dasar Pengetahuan, Keperkasaan dan Kebijaksanaan Allah sebagai Tuhan Pencipta Tunggal manusia  dan alam semesta.

Perumpamaan-perumpamaan yang Allah buat itu tidak bisa diketahui makna, hakikatnya dan kebenarannya kecuali oleh orang-orang yang berilmu.  Allah menciptakan langit, dan bumi dengan hak atau benar. Terwujudnya bumi dan langit dengan sistem penciptaan yang amat unik dan mengagumkan itu menjadi bukti nyata kekuasaan dan kebesaran Allah bagai kaum Mukmin.

Sebab itu, untuk menjelaskan konsep Tauhid, Allah memerintahkan Nabi Muhammad  Saw. agar membacakan wahyu yang diturunkan kepadanya dengan jelas, tidak boleh ada yang disembunyikan, atau  diselewengkan kandungannya. Rasul Saw. juga diperintahkan Allah untuk menegakkan salat karena salat itu dapat mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar, selama dikerjakan ikhlas karena Allah dan dipahami isinya. Sungguh, mengingat Allah (zikrullah) itu adalah hal yang paling besar nilainya di sisi Allah dan besar pengaruh positfnya dalam kehidupan. Allah mengetahui apa yang kita lakukan.

Tafsir Ibnu Katsir

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply