Hari ke-23: Tadabbur Surah Al-Baqarah Ayat 260-269

Ayat 260 masih terkait dengan Kekuasaan Allah. Kali ini Nabi Ibrahim ingin melihat kekuasaan Allah agar hatinya tenang sambil berkata : Ya Tuhan Penciptaku. Bagaimana caranya Engkau menghidupkan orang-orang yang sudah mati itu? Lalu Allah memperlihatkan Kekuasaan-Nya dengan menghidupkan 4 ekor burung yang berbeda, sudah dicincang dan dicampur aduk daging ke 4 burung tersebut kemudian dibagi empat dan masing-masing diletakkan di atas bukit yang berbeda. Setelah itu Ibrahim disuruh Allah untuk memanggil ke 4 burung tersebut, tiba-tiba ke 4 burung itu datang dalam keadaan hidup seperti sebelum dipotong. Allahu Akbar. Sungguh Allah itu Maha Mulia lagi Maha Perkasa.

Ayat 261-264 menjelaskan tentang anjuran berinfak di jalan Allah, keutamaannya dan syarat-syaratnya agar infak itu bernilai di sisi Allah. Logika berinfak di jalan Allah ialah ibarat menanam satu biji benih. Benih itu tumbuh dengan batang yang memiliki tujuh tangkai. Setiap tangkai memiliki buah sebanyak 100 buah.  Allah menggandakannya kepada orang uang dikehendak-Nya. Artinya, berinfak satu rupiah di jalan Allah, akan mendapat balasan  kebaikan dari-Nya 700 kelai lipat atau lebih. Untuk mendapatkan balasan sebesar itu, infak harus ikhlas karena Allah, tidak bertujuan meraih kehidupan duniawi, tidak boleh mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati penerimanya, tidak mengharap pujian manusia dan tidak boleh disebut-sebut.

Orang yang berinfak tidak ikhlas karena Allah itu berati ia belum yakin sepenuhnya pada Allah dan pada akhirat. Ia tidak akan mendapat pahala sedikitpun. Allah hanya memberi petunjuk-Nya kepada orang imannya sampai ke tingkat yakin.

Ayat 265-269 masih tentang berinfak di jalan Allah, keutamaan dan tata caranya. Orang yang berinfak di jalan Allah dengan ikhlas dan dengan harta berharga, bukan sisa atau yang sudah tidak berguna dan halal, seperti orang yang memiliki kebun di daerah pegunungan yang subur karena setiap hari disirami hujan, minimal hujan gerimis. Tentulah kebun tersebut akan menghasilkan buah secara terus menerus sehingga berlipat ganda seperti dijelaskan ayat 261 sebelumnya. Sebab itu, jangan ragu berinfak sedikitpun, karena Allah Maha Melihat apa yang kita infakkan.

Adapun orang yang berinfak dengan riya’ atau dengan harta sisa atau tidak berharga atau tidak halal, seperti orang yang memiliki kebun yang subur, kemudian setelah ia tua dan anak cucunya membutuhkan penghasilan, tiba-tiba kebun tersebut terbakar sehingga hangus semua isinya. Alangkah menyakitkannya kondisi seperti itu. Itulah balasan bagi yang berinfak tidak ikhlas atau tidak dari harta yang halal dan dari barang sisa.

Sebab itu, Allah memanggil kaum Mukmin agar menginfakkan harta yang baik dari hasil bisnis atau hasil pertanian. Jangan sekali-kali menginfakkan barang-barang yang sudah tidak dipakai apalagi sudah menjadi sampah. Allah Maha Kaya dan tidak butuh kepada infak seperti itu.

Sesungguhnya orang tidak mau berinfak ialah orang yang terpengaruh bujukan setan karena takut miskin. Padahal dengan berinfak itu, Allah hendak memberikan ampunan dan karunia-Nya. Hanya orang yang mendapat hikmah dari Allah-lah yang memahami kebesaran nilai infak dan berbagai ajaran Islam lainnya. Hanya orang yang berfikir yang dapat memahaminya.

Tafsir

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply