Hari ke-51: Tadabbur Surah An-Nisa’ Ayat 114-127

Ayat 114-121 masih menjelaskan sebagian perilaku orang-orang munafik dan hubungannya dengan setan serta cara-cara setan menyesatkan manusia. Orang-orang munafik itu suka membicarakan dari belakang (najwa) tentang Rasulullah dan kaum Muslimin. Padahal najwa itu tidak ada baiknya kecuali menyuruh bersedekah, berbuat baik atau mendamaikan diantara manusia. Selain itu adalah perbuatan setan, menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Ancamannya adalah neraka jahanam. Kemudian Allah menyesatkan tidak akan mengampuni orang-orang yang menyekutukan-Nya dan bisa saja mengampuni dosa-dosa yang lain, seperti yang dijelaskan sebelumnya pada ayat 48. Karena sesungguhnya mereka itu menyembah berhala atau setan yang durhaka dan dilaknat Allah.

Setan bertekad menyesatkan manusia dengan cara :

  1. Membuat manusia berangan-angan.
  2. Menyuruh manusia memotong telinga binatang ternak.
  3. Menyuruh manusia mengubah ciptaan Allah, termasuk manusia itu sendiri. Siapa saja yang menjadikan setan sebagai pelindung, maka ia akan merugi di dunia dan akhirat. Ingat, semua  janji setan itu adalah bohong dan tipuan belaka.

Ayat 122-126 menjelaskan:

  1. Orang-orang beriman yang sebenarnya ialah yang melaksanakan berbagai amal saleh, bukan hanya berangan-angan sebagaimana Ahlul Kitab.
  2. Balasan orang yang beriman dan beramal saleh, baik laki-laki maupun wanita adalah surga, sedangkan balasan amal kejahatan adalah neraka.
  3. Agama yang terbaik ialah yang mengajarkan penyerahan diri secara total kepada Allah, berbuat kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim. Itulah agama Islam. Islam menjadi agama terbaik karena ciptaan Allah. Sedangkan Allah adalah pemilik langit dan bumi dan apa saja isi keduanya dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Ayat 127 kembali menjelaskan hukum rumah tangga khususnya terkait dengan kewajiban membayar mahar menikahi anak yatim dan kewajiban memelihara serta memberikan harta anak-anak yatim yang disimpan sepeninggal orang tua mereka. Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil kepada anak yatim, baik yang mau dinikahi ataupun tidak. Berbuat adil pada anak yatim itu adalah kebaikan yang akan dicatat Allah dan akan mendapat imbalan yang baik pula dari-Nya.

Tafsir

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply