Hari ke-191: Tadabbur Surah Al-Mukminun Ayat 60-89

Ayat 60-74 meneruskan ayat sebelumnya:

  1. Menginfakkan sebagian harta yang mereka miliki.
  2. Hatinya takut pada Allah dan meyakini bahwa mereka akan kembali kepada Allah.

Mereka itulah yang bersegera menjawab seruan kebaikan para rasul Allah dan berlomba-lomba menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Adapun orang-orang yang dalam hati mereka ada kesesatan, tetap berbuat dosa dan menyekutukan Allah, maka ketika datang azab Allah mereka berteriak-teriak. Berteriak itu tidak akan menyebabkan turunnya pertolongan Allah. Mereka berpaling dari wahyu Allah dan menyombongkan diri dan menghina Al-Qur’an dan Nabi Muhammad pada klub-klub malam. Mereka tidak mau merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka mengenal pribadi Rasulullah Saw. tapi diingkari, bahkan menuduh beliau gila dan membenci kebenaran Al-Qur’an.

Sebenarnya, mereka hanya mengikuti hawa nafsu. Jika Al-Qur’an itu mengikuti hawa nafsu mereka, rusaklah langit dan  bumi dan semua manusia yang ada. Mereka menolak ajaran yang ada dalam Al-Qur’an. Sebab itu, Allah melarang Rasul Saw. meminta upah dari dakwahnya. karena pahala akhirat jauh lebih baik. Dakwah Rasul Saw. mengajak ke jalan yang lurus. Orang yang mengingkari akhirat adalah orang yang tersesat dari jalan Allah.

Ayat 75-89 meneruskan penjelasan ayat sebelumnya. Kekufuran kaum kafir Mekkah kepada Allah sangat dahsyat. Kendati ditimpakan kelaparan dan azab yang sangat keras, mereka berputus asa dan tetap tidak mau tunduk dan  merendahkan hati kepada Allah.

Tidak ada alasan bagi manusia untuk kafir kepada Allah, karena Dia menciptakan pendengaran, penglihatan dan hati (jantung) bagi manusia. Dia juga yang mengembangbiakkan manusia diatas bumi ini dan kepada-Nya juga nanti dikumpulkan. Dia pula yang menghidupkan, mematikan, menciptakan malam dan siang silih berganti.  Mereka tidak menggunakan akal dengan baik dan benar sehingga mereka mengulang perkataan nenek moyang mereka yang tidak beriman kepada hari kebangkitan dan menuduh wahyu Allah itu cerita dongeng belaka.

Anehnya, jika ditanyakan kepada mereka siapa pencipta bumi,  manusia yang ada di atasnya, langit tujuh lapis dan Arasy yang Agung itu, di tangan siapa kekuasaan segala sesuatu, sedangkan Ia melindungi dan tidak butuh perlindungan, mereka menjawabnya: Allah. Lalu apa yang membuat mereka tidak mau menauhidkan Allah dalam ibadah dan kehidupan ini? Padahal mereka mengakui Rububiyyatullah.

 

Tafsir Ibnu Katsir

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply