Hari ke-195: Tadabbur Surah An-Nur Ayat 32-43

Ayat 32-34 meneruskan  kaidah kehidupan sosial kaum mukmin sebelumnya:

  1. Segera menikahkan orang yang membujang, termasuk juga hamba-hamba yang saleh dan salehah. Kalau mereka miskin, Allah akan mencukupkan karunia-Nya kepada mereka. Bagi yang masih berat untuk menikah, maka hendaklah menjaga diri sampai Allah berikan karunia-Nya.
  2. Hamba sahaya yang berniat memerdekakan dirinya, hendaklah dibebaskan jika yakin di dalam dirinya ada kebaikan dan berilah mereka bantuan keuangan.
  3. Diharamkan mempekerjakan hamba sahaya sebagai pekerja seks. Apalagi wanita merdeka, tentu lebih haram lagi.

Dari 13 kaidah kehidupan sosial yang Allah jelaskan dalam surah ini jelas  sekali bahwa peran keimanan, ibadah, akhlak mulia, tolong menolong dalam ekonomi sangat efektif menanggulangi penyakit sosial, khususnya perzinahan.

Ayat 35-36 menjelaskan Allah pemilik cahaya langit dan bumi. Al-Qur’an adalah cahaya yang menerangi hati manusia. Bila hati seorang  mukmin mendapat cahaya Al-Qur’an maka hatinya akan hidup terang benderang dan tidak  akan tersesat dalam kehidupan dunia.  Masjid adalah tempat meninggikan, berzikir pada Allah dan bertasbih kepada-Nya waktu pagi dan petang.

Ayat 37 dan 38 menjelaskan orang-orang  mukmin yang mendapat cahaya Al-Qur’an dan hatinya mencintai rumah Allah (masjid) dengan melaksanakan berbagai ibadah di dalamnya, maka mereka menjadi  orang-orang yang memiliki kepribadian yang kuat. Perniagaan dan aktivitas dunia lainnya  tidak melalaikan mereka dari zikrullah, salat dan menunaikan zakat. Mereka takut pada peristiwa kiamat yang membuat mata manusia terbelalak. Allah akan limpahkan  karunia dan rezeki-Nya kepada mereka.

Ayat 39 dan 40 menjelaskan orang-orang yang tidak mendapat cahaya Al-Qur’an, mereka hidup dalam fatamorgana dan penuh kegelapan, sehingga tidak bisa membedakan antara hak dan batil, antara baik dan buruk, antara hama dan Tuhan Pencipta. Mereka hidup dalam kegelapan yang berlapis-lapis. Siapa yang tidak diberi Allah cahaya, maka ia akan  hidup dalam kegelapan yang gelap gulita.

Ayat 41-43 menjelaskan kekuasaan dan kebesaran Allah di alam semesta ini. Semua yang di langit, di bumi dan burung bertasbih kepada-Nya. Tapi, manusia tidak memahami bahasa mereka. Allahlah Pemilik langit dan bumi dan kepada-Nya tempat kembali. Mengapa manusia tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan proses hujan terjadi, gunung-gunung awan yang menurunkan butir-butir salju lalu Allah timpakan atau hindarkan dari orang yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilatnya nyaris menghilangkan penglihatan.

Tafsir Ibnu Katsir

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply