Hari ke-203: Tadabbur Surah Asy-Syu’ara Ayat 1-39

Ayat 1 diawali dengan 3 huruf Hijaiyyah (huruf Arab), yaitu tha, sin dan mim. Dalam Al-Qur’an terdapat 29 surah yang awalnya dimulai dengan gabungan beberapa huruf seperti ini. Tidak ada yang mengetahui maknanya kecuali hanya Allah. Rasul saw. tidak pernah menjelaskan maksudnya. Demikian juga para sahabat Rasul saw. yang kepada mereka Al-Qur’an diturunkan pertama kali, tidak pernah menjelaskan apa maksudnya. Sebab itu, jumhur ulama tidak berani menafsirkannya. Mereka hanya mengatakan: Allah-lah yang Mengetahui maksudnya.

Ayat 2-9 dari surat Asy-Syu’ara ini menjelaskan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an itu amat jelas. Nabi Muhammad amat sedih karena kaumnya tidak beriman. Allah bisa saja menurunkan mukjizat sehingga mereka beriman. Tetapi,  mereka akan tetap berpaling setiap ayat Al-Qur’an diturunkan. Pasti mereka akan mengetahui akibat penolakan itu. Mereka tidak bisa memahami bagaimana Allah menumbuhkan setiap tumbuhan itu berpasangan. itu adalah ayat Kekuasaan Allah. Kebanyakan manusia tidak mau beriman kepada Allh, Rasul-Nya dan Al-Qur’an.  Sungguh Allah Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Sebanyak dan sebesar apa pun dosa hamba-Nya tetap Dia ampuni selama mereka benar-benar bertobat dan kembali kepada-Nya.

Ayat 11-19 menjelaskan cerita Musa dan  Harun yang diutus Allah kepada Fir’aun dan kaumnya yang zalim. Tujuannya,  semoga mereka sadar bahwa alam ini, termasuk manusia, ciptaan dan milik Allah. Sebagai manusia, Nabi  Musa khawatir akan ditolak dan dibunuh oleh mereka. Lalu Allah menjamin keselamatannya dan saudaranya Harun. Ketika Musa mengatakan mereka adalah Rasulul Allah dan meminta agar membebaskan Bani Israil, Fir’aun malah mengungkit masa lalu Musa yang tinggal bersamanya dan melakukan pembunuhan.

Ayat 20-39 meneruskan dialog Musa dengan Fir’aun.  Kendati Musa mengakui kesalahannya di hadapan Fir’aun atas kasus pembunuhan sebelumnya dan keluar dari Mesir karena takut padanya, namun Fir’aun tersinggung berat saat Musa berkata:Allah adalah Tuhan Penciptaku, telah menganugerahkan kepadaku hikmah dan menjadikanku rasul-Nya. Kebaikan yang Anda berikan kepadaku sebagai kompensasi perbudakanmu terhadap Bani Israel. Lalu, Fir’aun pun mempertanyakan siapa Rabbul ‘Alamin (Tuhan Pencipta alam semesta) yang dimaksud Musa itu?

Maka Musa menjelaskan Rabbul ‘Alamin itu ialah Pencipta langit, bumi, kamu sekalian, nenek moyang kalian, timur dan barat, maka Fir’aun bertambah murka, menuduh Musa gila dan mengancam akan memenjarakannya jika tidak mengakui Fir’aun sebagai tuhan.  Kemudian Musa mengatakan bahwa ia dapat mendatangkan bukti kebenaran Allah sebagai Tuhan. Lalu, Fir’aun pun setuju. Namun, ketika Musa memperlihatkan mukjizat tongkatnya menjadi ular dan dari tangannya keluar cahaya, maka Fir’aun berkata kepada para pembesarnya bahwa Musa adalah penyihir besar yang akan mengusir mereka dari Mesir. Fir’aun pun menantang Musa dengan para penyihir istananya secara terbuka dan meminta disaksikan masyarakat di lapangan terbuka.

 

Tafsir Ibnu Katsir