Hari ke-204: Tadabbur Surah Asy-Syu’ara Ayat 40-83

Ayat 40-60 meneruskan kisah Musa dengan Fir’aun. Saat Fir’aun mengumpulkan para penyihir itu, mereka mengajukan imbalan jika mereka menang melawan Musa. Fir’aun pun menjanjikan mereka akan menjadi orang-orang paling dekat dengannya jika mereka memenangkan pertarungan tersebut.

Saat pertarungan hendak dimulai, Musa mengambil inisiatif  agar para penyihir itu yang memulai aksi sihir mereka. Maka dengan penuh percaya diri, sambil bersumpah atas nama kemuliaan Fir’aun, para penyihir itu yakin menang.  Betapa kagetnya mereka melihat hasil sihir mereka dengan mudah ditelan ular yang diciptakan Allah dari tongkat Musa. Melihat kenyataan tersebut, mereka sujud dan mengucapkan: Kami beriman kepada Rabbul ‘Alamin, Pencipta Musa dan Harun. Fir’aun murka dan mengancam akan memotong tangan dan kaki mereka kemudian menyalib mereka. Ancaman Fir’aun itu tidak mereka hiraukan karena mereka rindu kembali kepada Allah, dapat ampunan-Nya dan demi menjaga iman pada Allah. Lalu Allah memerintahkan Musa dan para pengikutnya untuk segera meninggalkan Mesir menuju ke arah Laut Merah. Setelah mengetahuinya, Fir’aun mengumpulkan bala tentaranya untuk mengejar dan menangkap mereka.

Ayat 61-68 meneruskan kisah Musa dan pengikutnya lari meninggalkan Mesir karena takut ancaman Fir’aun. Allah perintahkan Musa dan pengikutnya menuju ke Laut Merah. Begitulah cara  Allah menyelamatkan Musa dan pengikutnya dan memusnahkan Fir’aun, para pembesar dan prajuritnya. Musa dan pengikutnya dalam posisi yang amat sulit karena laut di hadapan mereka dan kelompok Fir’aun dan kelompok Musansudah saling melihat. Para  mengikut Musa yakin mereka akan tertangkap. Sedangkan Musa berbeda pendapat dengan mereka dan berkata: Tidak mungkin, sesungguhnya  Allah bersamaku, pasti aku ditunjuki-Nya jalan keluar.

Ternyata jalan keluarnya ialah Allah perintahkan Musa memukulkan tongkatnya ke laut dan saat itu juga laut itu terbelah. Musa dan pengikutnya  menyeberangi laut itu sampai ke seberang. Ketika Fir’aun melewati jalan yang sama, laut tersebut bertaut kembali sehingga Fir’aun bersama prajuritnya tenggelam semuanya.

Ayat 69-83 menjelaskan kisah Ibrahim  dengan bapak dan kaumnya; para penyembah berhala yang tidak bisa mendengar, melihat, memberi manfaat dan mudarat. Alasannya hanya karena tradisi nenek moyang, tanpa dasar akal sehat. Padahal Allahlah yang menciptakan manusia, memberi hidayah, memberi makan, minum, sakit, menyembuhkan, mematikan dan menghidupkan. Ibrahim adalah orang yang sangat berharap mendapatkan ampunan, hikmah atau kenabian dari Allah dan digabungkan dengan orang-orang saleh.

 

Tafsir Ibnu Katsir

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply