Hari ke-243: Tadabbur Surah Saba’ Ayat 32-54

Hari ke-243: Tadabbur Surah Saba’ Ayat 32-54

Ayat 32 dan 33 meneruskan kisah sebelumnya. Kaum yang menindas menjawab : Sebenarnya bukan kami yang menjauhkan kalian dari petunjuk Al-Qur’an. Akan tetapi, kalian adalah kaum penjahat. Kaum yang ditindas membalasnya: Kalian melakukan makar siang dan malam demi menyuruh kami kafir pada Allah dan membuat tandingan-tandingan bagi-Nya. Semua mereka menyesali kekufuran mereka terhadap Al-Qur’an saat melihat azab neraka sudah didepan mata. Lalu leher-leher mereka dirantai dan digiring ke neraka. Itulah balasan yang setimpal bagi orang-orang yang kafir pada Allah.

Ayat 34 dan 39 menjelaskan di setiap negeri yang diutus Rasul pasti ada kelompok elite yang berani terang-terangan kafir padanya. Alasannya, Rasul itu miskin dan persepsi yang keliru terhadap sistem Allah. Padahal Pemberi rezeki itu adalah Allah. Ia berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Sayang, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Harta dan anak itu bukan bukti kasih sayang Allah pada seseorang. Melainkan iman dan amal saleh yang bisa meraih ridha Allah. Kaum mukmin yang beramal saleh akan diberikan balasan yang berlipat ganda dan di  surga mendapatkan rumah-rumah yang tinggi dan tenteram. Sebaliknya, orang-orang yang berupaya menghambat manusia dari jalan Allah dan Rasul-Nya, bagi mereka azab neraka.  Allahlah melapangkan dan membatasi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Apa yang diinfakkan di jalan Allah, pasti Dia ganti, karena  Allah sebaik-baik Pemberi rezeki.

Ayat 40-48 menjelaskan di padang Mahsyar nanti para Malaikat bersaksi bahwa sebenarnya kaum musyrikin itu menyembah setan (jin kafir) dan mengikuti perintah-perintahnya. Pada hari itu, mereka tidak bisa lagi saling  membantu atau menjerumuskan. Mereka semuanya dimasukkan ke dalam neraka agar merasakan azab neraka yang mereka tolak kebenarnnya waktu masih hidup di dunia.

Mereka juga menuduh Rasul saw. mengada-ada untuk menghambat mereka dari tradisi ketuhanan nenek moyang mereka dan tukang sihir. Penolakan seperti ini juga terjadi pada Rasul-Rasul Allah sebelumnya. Merekapun diazab Allah. Allah perintahkan Rasul saw. agar menyampaikan masalah Tauhid. Ia bukanlah gila, akan tetapi pemberi kabar takut sebelum azab Allah  tiba. Rasul saw. juga dilarang meminta upah dari dakwah Tauhid karena Allah yang akan membalasanya dan memberinya wahyu.

Ayat 49-54, menjelaskan kebenaran Al-Qur’an itu perlu ditegakkan agar kebatilan itu musnah. Pentunjuk itu hanya yang terkandung dalam wahyu Allah. Orang-orang yang menolak Al-Qur’an itu akan merasakan ketakutan yang dahsyat pada hari kiamat dan berharap menjadi mukmin. Namun sudah terlambat karena mereka di dunia tidak yakin.

 

Tafsir Ibnu Katsir

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Amaliyah
Logo