Hari ke-322: Tadabbur Surah Al-Munafiqun Ayat 1-11

Ayat 1 – 4 dari surah Al-Munafiqun ini menjelaskan sifat-sifat kaum munafik seperti, suka  berbohong kendati kepada Rasul Saw., menjadikan sumpah tameng kemunafikan mereka dengan niat menghalangi manusia dari jalan Allah,  ragu sehingga jatuh pada antara iman dan kafir. Allah kunci mati hati mereka sehingga tidak mengerti kebenaran Al-Qur’an. Tampilan fisik mereka mengagumkan dan pembicaraan mereka  menarik. Mereka seperti kayu yang tersandar  dan mengira semua ucapan kaum Mukmin diarahkan kepada mereka. Mereka musuh Islam  dan umat Islam diminta Allah berhati-hatilah  terhadap mereka. Allah memerangi mereka di mana saja mereka berada.

Ayat 5-8 meneruskan ayat sebelumnya terkait sifat-sifat kaum munafik. Mereka tidak  mau diajak menghadap Rasulullah Saw. agar  Beliau memintakan ampunan Allah untuk mereka dan membuang muka sambil menyombongkan diri. Sebab itu, Allah memutuskan  bahwa mereka tidak akan diampuni-Nya kendati Rasul Saw. memintakan untuk mereka ampunan 70 kali. Allah tidak memberikan petunjuk-Nya kepada kaum fasik. Mereka memprovokasi kaum Anshar agar tidak berinfak kepada kaum Muhajirin supaya mereka meninggalkan Rasul Saw. Padahal, Allah Pemilik kekayaan langit  dan bumi, namun mereka tidak memahaminya. Mereka juga mengklaim kemuliaan ada pada diri mereka. Allah katakan: Kemuliaan itu milik  Allah, Rasul-Nya dan kaum Mukmin. Namun,  mereka tidak mengetahuinya.

Ayat 9 – 11 menjelaskan peringatan Allah terhadap kaum Mukmin agar tidak dilalaikan harta  dan anak-anak dari beribadah kepada-Nya. Siapa yang melakukannya, pasti merugi di dunia  dan akhirat. Agar dapat terhindar dari kelalaian  dan kerugian tersebut, Allah perintahkan kaum  Mukmin agar banyak berinfak di jalan Allah sebelum datang kematian.  Jika kematian tiba, orang yang lalai beribadah dan tidak mau berinfak itu akan menyesal dan meminta agar Allah menunda kematiannya barang sejenak supaya dapat kesempatan berinfak dan menjadi orang saleh. Ini adalah permintaan yang mustahil, karena Allah tidak akan menunda kematian orang yang sudah  sampai ajalnya. Allah Maha Mengetahui apa  yang kita kerjakan. Sebab itu, mari kita persiapkan diri kita menghadapi kematian dengan amal saleh dan banyak berinfak di jalan Allah.

 

Tafsir Ibnu Katsir

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply