Gelap masih merambati langit Bogor. Mentari belum sepenuhnya menampakkan cahaya. Namun, demi mencukupi kebutuhan keluarga, saya harus siap keluar rumah menjemput rezeki yang Allah tebarkan di muka bumi. Sebelum shalat Subuh, saya harus merapikan perlengkapan keempat anak saya yang harus berangkat sekolah pagi itu.
Setumpuk seragam, sarapan pagi, segelas susu dan habatus sauda’ siap di tempatnya masing-masing. Sedangkan perlengkapan sekolah … Ah, Zafrani dan ketiga adiknya sudah sangat mandiri. Tak perlu disiapkan.
Sejak setahun lalu, mereka sudah bertanggung jawab mengurus perlengkapan sekolah. Saya sangat bersyukur. lni salah satu pertolongan Allah. Saat saya harus keluar mencari tambahan penghasilan, anak-anak sudah tahu tugasnya masing-masing. Tugas saya hanya mengecek, apakah mereka mengerjakan rutinitas pagi dengan baik atau tidak.
Bagi kebanyakan wanita, pekerjaan sebagai loper dan pengecer surat kabar, mungkin tak pernah terbayangkan. Ketika bisnis pakaian dan kue menjadi pilihan kebanyakan pebisnis perempuan, saya justru melihat adanya peluang untuk memasarkan koran dan majalah.
Saat itu, saya berpikir untuk mulai mencari penghasilan tambahan. Anak-anak mulai besar, kebutuhan pasti juga bertambah. Awalnya seorang ternan menawarkan untuk memakai kiosnya di pasar Tanah Baru, Bogor Utara. Rencananya, saya akan isi dengan berjualan pakaian. Ternyata pasar itu sepi bahkan akhirnya mati. Kemudian saya memutar otak untuk mencari bisnis yang lain. Di saat yang sarna, ternan saya mengeluhkan sulitnya mencari surat kabar dan majalah. Saat itulah saya tangkap peluang itu.
Bermodalkan uang 200 ribu rupiah, saya mulai menambahkan kegiatan dalam agenda harian. Sejak Maret 2006, setiap pagi usai Subuh, saya harus bergegas menuju agen di stasiun Bogor untuk membeli surat kabar dan majalah yang terbit hari itu. Bukan hal yang mudah memang. Sebelum ada motor, saya harus naik ojek langganan. Belum lagi, saat itu saya juga harus mengantar semua anak saya ke sekolah. Tidak hanya itu. Awal berjualan, belum banyak orang yang datang ke kios.
Surat kabar harian tidak pernah habis. Bahkan agen, selalu membatasi jumlah surat kabar yang saya ambil, karena selalu saja tidak laku. Akhirnya kan, harus saya kembalikan.
Lama kelamaan penjualan mulai meningkat. Saat itu saya beranikan mencari tempat untuk buka kios baru. Kebetulan di minimarket dekat rumah, belum ada pengecer koran dan majalah. Berbekal petunjuk seorang tukang ojek, saya beranikan menemui pemilik minimarket itu untuk sewa tempat. Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan. Pemilik minimarket itu menyuruh saya langsung buka kios. Tapi masih ada yang mengganjal, modal untuk membuat kios baru ternyata cukup besar. Beruntung, saya mendapatkan rak buku bekas yang dijual murah. Hanya dengan 125 ribu, saya sudah bisa buka kios baru.
Dengan dua kios yang ada, otomatis waktu makin tersita. Padahal jadwal untuk mengantar anak-anak sekolahjuga harus saya kerjakan sendiri. Allah memberikan saya motor. Lumayan untuk operasional mengantarkan koran ke langganan sekaligus mengantar empat anak saya ke sekolah.
Saya tidak peduli dengan pandangan orang lain. Satu motor yang idealnya maksimal untuk dua orang, diboncengi oleh empat anak saya. Saya harus mengantar mereka ke sekolah. Bukan tidak ada yang geleng-geleng kepala, tapi kebanyakan memaklumi kesibukan saya. Terbukti, tak pernah ada tetangga yang mengeluhkan perihal pekerjaan saya.
Sejak ada kios tambahan, kegiatan mengantar anak-anak jadi sedikit terbengkalai. Bersyukur anak-anak saya semua di sekolah swasta. Tak pernah ada komplain perihal keterlambatan anak-anak, karena masih dalam batas wajar. Tapi khusus untuk dua anak laki-laki saya yang sekolah di Madrasah Ibtidaiyah, saya meminta guru mereka memberikan tambahan Pekerjaan Rumah (PR) setiap kali terlambat.
Lama-kelamaan dua anak saya protes. Walaupun PR tidak pernah dijadikan beban, tapi kalau setiap hari punya begitu banyak PR, jam main mereka tersita. Mereka minta saya mengantar lebih awal. Saya katakan pekerjaan saya tidak memungkinkan untuk mengantar mereka lebih pagi. Saya usulkan supaya mereka naik angkot saja. Ternyata mereka tidak keberatan, walaupun harus berjalan kaki agak jauh.
Dengan pekerjaan yang begitu menyita waktu, tidak menjadikan anak-anak terbangkalai. Zafrani, si sulung yang kini duduk di kelas empat SD Alam Bogor, bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adiknya.
Zafrani sebagai anak paling tua, memang diberikan tekanan lebih besar dibanding yang lain. Jika keluar rumah, saya percaya Zafrani bisa membimbing adik-adiknya. Dan itu sudah dipersiapkan sejak lama. Jika ingin anak-anak saya belajar tentang sebuah kebaikan, saya akan ajarkan Zafrani lebih dulu. Saya yakin, kalau kakaknya baik, maka adik-adiknya akan mencontoh.
Anak kedua saya Zafran’s terlihat lebih tekun dan pendiam. Zafran’s memang berbeda dengan yang lain. Bahkan, Zafran’s tak perlu menjalani kelas dua madrasah Ibtidaiyahnya secara penuh. Hanya dua minggu di kelas dua, ia bisa langsung naik kelas tiga. Di tingkat ini pun, Zafran’s selalu dapat peringkat tiga besar.
Prestasi anak tak selalu saya lihat dari nilai-nilai yang mereka dapat di sekolah. Kalau mereka bisa disiplin, menghargai waktu, buat saya itu lebih berharga. Mudah-mudahan kedisiplinan mereka bisa bertahan sampai dewasa. Itu harapan saya. Karena banyaknya hal yang harus saya kerjakan, anak-anak sering saya suruh jaga lapak. kadang saya menyuapi mereka di pinggir lapak sambil menanti pembeli.
Kesibukan mencari nafkah, tidak melupakan saya untuk tetap menuntut ilmu. Dalam sepekan, selalu ada majelis ilmu yang saya datangi. Itu kebutuhan tak terelakkan. Saya tidak mungkin memberikan ilmu kalau tidak memilikinya. Ilmu itu juga ruh agar saya bisa tetap konsisten mendidik anak -anak.
Buat saya, silaturahim sangat penting. Menjaga hubungan baik dengan banyak orang itu nafas saya. Berkah silaturahim itu banyak sekali. Seringkali dengan silaturahim, ilmu didapat, masalah terpecahkan, bisnis juga berjalan.
Dalam menjalankan bisnisnya, saya tidak mau mengambil langganan pengecer lain. Sebagai seorang pebisnis, sangat ingin usaha sukses. Tapi kalau harus merugikan atau menutup rezeki orang lain, saya tidak mau.
Masalah kebersihan rumah, mencuci dan menyeterika baju, saya menyerahkannya kepada orang lain. Repot sekali kalau saya juga harus mencuci dan menyeterika pakaian. Kalau membereskan rumah atau cuci piring, kami bisa mengerjakannya bersama-sama. Anak-anak paham kalau saya juga butuh bantuan mereka saat harus membersihkan rumah. Mereka bisa membagi tugas masing-masing. Mereka juga tidak iri satu sama lain. Saya biasa memperlakukan anak-anak sama saja. Tidak ada yang lebih spesial.
Saya sering mengajak empat anak saya jalan-jalan. Itu sering saya lakukan sebagai reward atas apa yang telah mereka kerjakan. Namun jika salah satu saja sakit, maka yang lain memilih untuk tetap tinggal menemani saudaranya yang tengah kurang sehat itu. Pilihan itu diambil, karena mereka juga merasakan hal yang sama saat sakit.
Saya juga membiasakan mereka untuk lebih menyayangi saudaranya ketimbang memperebutkan sesuatu dengan adik atau kakaknya. Saya tekankan lebih baik kehilangan benda yang mereka inginkan ketimbang harus kehilangan saudaranya.
Saya sangat menyadari, anak-anak sekarang yang akan memakmurkan bumi Allah di masa depan. Jika kita mempersiapkannya sejak dini, kita tidak perlu khawatir dengan generasi penerus kita. Mudah-mudahan kisah inspirasi ini menggugah pembaca untuk juga mempersiapkan generasi yang baik lagi shalih. Karena merekalah yang akan mendoakan kita kelak dan menjembatani kita dengan keridhaan Allah.
Seperti yang dituturkan Lely kepada Syaiful Anwar
support by:
umroh-haji.net