Hari ke-37: Tadabbur Surah Ali Imron Ayat 154-165

Ayat 154-157 masih berkisah tentang kondisi kaum Muslimin dalam menghadapi berbagai ujian, terasuk perang melawan kaum kafir seperti Perang Uhud yang dikisahkan ayat ini. Allah menurunkan ketenangan jiwa kepada kelompok yang berorientasi akhirat dan membuat cemas kelompok yang masih berorientasi dunia sehingga mereka kabur dari medan perang, karena mereka masih berburuk sangka kepada Allah. Padahal kematian itu tidak ada kaitannya dengan perang. Kalau sudah sampai ajalnya, di rumah pun bisa mati. Sebenarnya mereka yang kabur dari medan perang karena takut mati itu karena tergoda setan disebabkan dosa yang mereka lakukan.

Orang beriman dilarang berpikir dan bersikap seperti orang-orang kafir yang meyakini berjalan jauh atau berperang itu penyebab kematian. Kalau sudah sampai ajal, pasti mati, kendati dalam rumah sendiri. Pikiran dan sikap seperti mereka itu hanya akan menimbulkan penyesalan dalam diri dan lama-lama bisa sakit jiwa. Padahal kematian itu tergantung kehendak Allah. Sebab itu, mati terbunuh di medan jihad atau mati biasa sama-sama mati. Ampunan Allah dan rahmat-Nya jauh lebih baik dari harta yang dikumpukan kaum kafir.

Ayat 158-165 masih menjelaskan hal-hal seputar berperang di jalan Allah, seperti, baik mati terbunuh di medan perang ataupun tidak, yang pasti akan dikumpulkan di Padang Mahsyar kelak.

Karena beratnya perang dan perjuangan di jalan Allah itu, maka seorang pemimpin harus menjadi contoh dan bersikap rendah hati pada prajuritnya. Sebab, kalau memimpin dengan kekerasan dan kasar pasti banyak yang akan lari. Seorang pemimpin harus pemaaf, selalu mintakan ampunan Allah untuk prajuritnya dan musyawarah.  Tawakkal pada Allah dalam perkara yang sudah diputuskan  adalah syarat menjadi pemimpin yang sukses.

Harta rampasan perang adalah miliki negara. Seorang pemimpin, termasuk Nabi Muhammad saw. tidak boleh mengambil seenaknya, karena ada aturan dari Allah. Mengambil seenaknya mendapat azab Allah di akhirat.

Orang yang mencari keridaan Allah tidaklah sama dengan orang mendapat murka-Nya. Tempatnya di neraka. Itulah seburuk-buruk tempat. Yang mencari ridha Allah akan mendapat derajat yang tinggi di sisi-Nya. Caranya,  membaca, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an, melakukan tazkiyatunnafs dan mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Saw.

Kekalahan atau musibah bisa karena kesalahan diri sendiri.  Sungguh AllahMaha Kuasa atas segala sesuatu.

Tafsir

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply