Hari ke-71: Tadabbur Surah Al-An’am Ayat 69-81

Ayat 69 – 73 mengingatkan kaum Mukmin terkait orang-orang yang memperolok-olokan Al-Qur’an, Rasulullah dan Islam.

  1. Tidak bertanggung jawab terhadap kekufuran orang-orang kafir. Namun berkewajiban mengingatkan mereka.
  2. Tinggalkan orang-orang yang menjadikan agama mereka permainan dan senda gurau serta tertipu oleh kehidupan dunia. Ingatkan mereka kepada hari pembalasan di mana tidak ada penolong da pelindung kecuali hanya Allah, tidak berguna lagi tebusan dan minuman mereka di neraka nanti adalah api.
  3. Katakan pada mereka apakah masuk akal manusia menyembah tuhan yang tidak bisa mendatangkan manfaat dan tidak pula menghidarkan mudarat?
  4. Kaum mukmin harus berhati-hati terhadap godaan setan sehingga bisa membuat mereka bingung dan kembali kepada kemusyrikan setelah mendapat hidayah dari Allah.
  5. Kewajiban menyampaikan kepada manusia bahwa petunjuk yang benar itu ialah Al-Qur’an dan kaum mukmin diperintahkan untuk tunduk setunduk-tunduknya kepada Tuhan Pencipta jagat raya ini.
  6. Bagi mereka yang menerima Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup dan masuk Islam, maka ajarkan kepada mereka salat dan takut pada Allah karena nanti semua manusia dikembalikan kepada-Nya.
  7. Ajak manusia mengenal Tuhan Pencipta langit dan bumi dengan benar. Al-Qur’an itu adalah firman-Nya yang benar. Dia Penguasa mutlak pada hari kiamat nanti. Dia Maha Mengetahui yang gaib dan yang tampak serta Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.

Ayat 74-81 mengajari kita hakikat tauhid dan metode perjuangan Ibrahim, Bapak Tauhid dalam mengajak manusia untuk bertauhid dan meninggalkan syirik. Ibrahim berkata lantang tanpa sungkan dan takut, kendati kepada bapaknya yang bernama Azar.  Ibrahim berkata, “Patung yang kalian sembah itu salah sasaran. Saya yakin betul Anda dan kaum Anda dalam kesesatan nyata.”

Untuk meyakinkan Ibrahim dalam mengemban dakwah Tauhid yang penuh tantangan dan ancaman, Allah perlihatkan kepadanya sistem penciptaan benda-benda langit dan bumi, hingga ia yakin betul bahwa segala sesuatu diciptakan Allah. Ia juga meyakini, kalau Allah tidak memberinya hidayah, tentulah ia sesat seperti bapaknya dan kaumnya. Ia pun berlepas diri dari kemusyrikan mereka.

Ibrahim juga mencapai kesimpulan bahwa ia harus sujud dan taat hanya kepada Allah, dan menyatakan kepada kaumnya bahwa ia tidak termasuk komunitas musyrikin.

Ibrahim mudah mementahkan argumentasi kaumnya yang mendebatnya tentang Allah. Ia hanya takut pada-Nya karena ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, bukan pada tuhan-tuhan mereka, karena hanya patung yang diukir, termasuk oleh bapaknya. Seharusnya orang-orang musyrik itulah yang takut pada Allah karena mereka menyekutukan-Nya. Golongan manakah yang lebih berhak mendapatkan rasa aman? Kaum mukmin atau musyrikin? Hanya kaum mukmin yang meraih rasa aman dalam hati mereka.

Tafsir

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply