Hari ke-73: Tadabbur Surah Al-An’am Ayat 95-110

Ayat 95-101 mengajarkan  kita cara membangun akidah tauhid yang kuat dalam diri kaum mukmin, yaitu dengan mempelajari detil-detil ciptaan Allah dalam berbagai ciptaan-Nya. Diantaranya Allah membelah benih biji-bijian dan biji buah-buahan, mengeluarkan yang hidup dari yang mati, yang mati dari yang hidup, memecah subuh dengan cahaya pagi, menjadikan malam untuk istirahat, matahari dan bulan sebagai dasar hitungan waktu, bulan dan tahun, bintang di langit sebagai petunjuk jalan di kegelapan malam, baik di daratan maupun di lautan, menciptakan manusia dari satu diri (Adam), bumi sebagai tempat menetap manusia dan menyimpan kebutuhan hidup manusia, menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Allah tumbuhkan berbagai tumbuh-tumbuhan, tanaman yang menghijau yang dikeluarkan Allah darinya biji-bijian yang berlapis-lapis, tangkai-tangkai kurma yang menjulai, kebun-kebun anggur, zaitun, delima yang mirip dan yang tidak mirip.

Lalu, kenapa manusia masih saja menyekutukan Allah dengan setan dan berbagai makhluk halus (khurafat) lainnya, padahal setan semuanya ciptaan Allah. Jin dan setan itu memberikan berita-berita bohong kepada manusia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan. Allah adalah Pencipta langit dan bumi. Bagaimana mungkin Allah memiliki anak sedangkan Dia tidak butuh istri. Dia yang menciptakan segala sesuatu dan Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ayat 102 dan 103 meneruskan pembahasan sifat dan kekuasaan Allah. Di antaranya, Allah Pencipta manusia dan segala sesuatu, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia dan Pemelihara segala sesuatu. Tidak terlihat mata, tapi Allah menjangkau pemandangan kita. Dia Mahalembut terhadap hamba-Nya lagi Maha Mengenal watak mereka. Ayat 104-110 menjelaskan:

  1. Allah memberi manusia Al-Qur’an sebagai hujjah (bukti). Dengan Al-Qur’an, manusia mampu melihat hak itu hak dan batil itu batil.
  2. Allah menciptakan bukti-bukti kekuasaan-Nya di langit dan di bumi  dan menjelaskan sejelas-jelasnya bagi kaum yang mau belajar.
  3. Kita wajib mengikuti petunjuk Al-Qur’an, mengakui keesaan-Nya dan menjauhi perilaku kaum musyrikin serta tetap berdakwah kepada mereka.
  4. Allah melarang mencaci para penyembah selain Allah, karena bisa menyebabkan mereka mencaci maki Allah karena permusuhan dan tanpa ilmu.
  5. Orang-orang yang tidak mau memahami ayat-ayat Allah di langit dan di bumi dan telah kerasukan kemusyrikan sangat sulit untuk bisa beriman, kendati mereka melihat mukjizat dari Allah sebagaimana yang dialami kebanyakan kaum Bani Israil. Disebabkan kekufuran dan kemusyrikan itulah Allah palingkan hati dan penglihatan mereka dari memahami kebenaran Al-Qur’an dan Allah juga membiarkan mereka kebingungan dalam kesesatan.

Tafsir

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply