Hari ke-84: Tadabbur Surah Al-A’raf Ayat 82-95

Ayat 82-84 masih meneruskan cerita Nabi Luth dengan kaumnya. Seruan Nabi Luth agar mereka berhenti melakukan homo seks malah ditanggapi negatif dan mereka memprovokasi masyarakat untuk mengusir Nabi Luth dari negeri dan menuduh Luth dan pengikutnya sok suci. Lalu Allah selamatkan Luth dan keluarganya, kecuali istrinya karena termasuk golongan orang-orang yang durhaka pada Allah dan Rasul-Nya. Allah hancurkan mereka dengan hujan batu panas sebagai akibat pembangkangan mereka terhadap sistem Allah dan Rasul-Nya.

Ayat 85-87 menceritakan kisah Nabi Syuaib dengan kaumnya di negeri Madyan. Inti dakwahnya Nabi Syuaib ialah: a) Mengesakan dan menyembah Allah saja. b) Jujur dalam takaran dan timbangan. c) Tidak boleh melakukan kerusakan di atas muka bumi. Penduduk Madyan menolak dakwah Nabi Syuaib. Bahkan mereka duduk-duduk di pinggir jalan sambil menakut-nakuti sesama mereka agar tidak mengikuti dakwah Nabi Syuaib dan melarang orang dari mengikuti sistem Allah. Mereka juga berupaya untuk merusak ajaran Allah. Mereka tidak mau mengingat nikmat Allah di mana mereka pada awalnya sedikit lalu Allah perbanyak jumlah mereka. Mereka tidak mau mengambil pelajaran dari nasib tragis orang-orang sebelum mereka yang merusak di atas muka bumi ini.

Allah menghibur Nabi Syuaib dengan menceritakan nabi sebelumnya juga mengalami hal yang sama. Sunnatullah dalam berdakawah kepada mentauhidkan Allah pasti ada sekelompok yang beriman dan ada pula yang kafir, kendati biasanya yang kelompok terakhir ini lebih banyak.

Solusinya adalah sabar dan sabar dan sabar, sampai Allah sendiri yang akan mengambil keputusan apakah akan musnahkan orang-orang yang tetap bertahan dengan kekufuran dan kemusyrikan mereka dengan azab yang mengerikan sehingga mereka tersiksa dan musnah seperti yang Allah putuskan terhadap kaum Nuh, Hud dan Saleh, atau Allah berikan kepada mereka hidayah karena mereka mau tunduk dan ikhlas menerima ajaran Allah dan Rasul-Nya  seperti kaum Nabi Yunus. Sesungguhnya Allah itu adalah sebaik-sebaik pengambil keputusan atau sebaik-baik Penghukum. Tugas para rasul-Nya hanya menyampaikan risalah-Nya.

Ayat 88-95 masih meneruskan cerita kesombongan kaum Nabi Syuaib dan perlawanan mereka terhadap sistem Allah dan Rasul-Nya. Para pemuka masyarakatnya mengancam akan mengusir Nabi Syuaib dan para pengikutnya jika tidak kembali kepada agama syirik yang mereka terima secara turun-temurun. Tentu saja Nabi Syuaib mustahil tunduk kepada ancaman itu dan siap menghadapi risiko apapun dari kaumnya.

Nabi Syu’aib mengajak para pengikut setianya untuk bertawakal pada Allah sambil berdoa: Ya Allah, putuskanlah perkara antara kami kaum kami dengan benar. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik Pengambil keputusan. Para pemuka dan elite kaum Syuaib bukan hanya membangkang pada Allah dan Rasul-Nya, mereka juga memprovokasi masyarakat agar tidak mengikuti agama Syuaib dengan alasan agar tidak dirugikan. Sewaktu mereka asyik membangkang dan memprovokasi masyarakat, tiba-tiba Allah kirim gempa besar sehingga seketika itu juga mereka menjadi bangkai-bangkai yang bergelimpangan dalam rumah-rumah mereka. Sehebat dan sekuat apapun mereka yang membangkang pada Nabi Syuaib ternyata tidak berguna sedikitpun di hadapan gempa yang Allah kirim.

Setelah mereka hancur, Nabi Syuaib sedih melihat kondisi mereka dan berkata: Bukankah aku sudah sampaikan pesan-pesan Allah dan saya sudah menasihati kalian? Namun apa yang hendak dikata, begitulah nasib kaum yang kafir pada Allah dan Rasul-Nya. Telah menjadi sunnatullah (sistem Allah) bahwa setiap kaum yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, Allah timpakan kepada mereka kesempitan dan penderitaan agar mereka merendahkan hati pada Allah. Kemudian Allah ganti dengan kondisi yang baik sampai mereka berkembang biak. Jika mereka tidak kembali kepada Allah, maka Allah akan siksa mereka secara mendadak, sedangkan mereka tidak menyadari skenario Allah tersebut.

Tafsir

 

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply