Hari ke-85: Tadabbur Surah Al-A’raf Ayat 96-120

Ayat 96-102 menjelaskan satu yang amat penting, khususnya di saat kita hidup sekarang ini dalam krisis multidimensi yang berkepanjangan. Sau-satunya solusi membangun kehidupan suatu negeri yang berkah, sejahtera dan aman, yaitu dengan meluruskan konsep keimanan pada Allah dan membentuk karakter takwallāh dalam diri pemimpin dan masyarakat. Kalau tidak, bersiap-siaplah dihancurkan Allah dengan berbagai cara seperti gempa bumi, angin topan, banjir dan sebagainya seperti yang Allah ceritakan sebelumnya tentang umat Nabi Nuh, Hud, Shaleh, Luth dan Syu’aib. Kekuatan pemerintahan, kecanggihan teknologi dan harta yang melimpah yang mereka miliki tidak berguna sedikitpun menghadapi azab yang Allah turunkan. Biasanya azab tersebut datang di waktu malam saat manusia sedang tidur, atau di waktu dhuha (antara jam 7-11 pagi). Tidak akan ada orang merasa aman dari makar Allah tersebut kecuali kaum merugi.

Apakah belum cukup bagi kita berbagai bencana yang timpakan pada kaum-kaum sebelum kita dan bahkan di masa kita juga terjadi hal yang sama seperti tsunami, gempa bumi dan ledakan gunung merapi? Allah ceritakan pada kita kehancuran umat-umat terdahulu sebagi balasan atas kedurhakaan mereka pada Allah dan para rasul-Nya. Sebab itu, jangan menunggu kehancuran itu menimpa kita atau Allah tutup hati kita sehingga kita tidak bisa lagi berpikir dan memahami sistem Allah dengan baik. Sayang sekali kebanyakan manusia membangkang pada Allah.

Ayat 103 menjelaskan, Allah mengutus Musa kepada Fir’aun dan pada elite pemerintahannya dengan berbagai bukti kebesaran Allah dan kebenaran dakwah Musa. Fir’aun dan elite pemerintahannya memerangi dakwah Musa tersebut. Dengan kezaliman tersebut, mereka menunggu akhir hidup yang mengenaskan. Nabi Musa menjelaskan pada Fir’aun dan para elite pemerintahannya bahwa ia adalah Rasul Tuhan Pencipta alam semesta, bukan tukang sihir seperti yang mereka tuduhkan.

Ayat 105-120 meneruskan kisah dakwah Nabi Musa sebelumnya. Nabi Musa sangat tinggi perhatiannya menyampaikan kebenaran dari Allah dengan berbagai bukti mukjizat yang diberkan Allah kepadanya. Di antara target dakwahnya ialah menyelamatkan Bani Israil dari cengkraman dan penjajahan Fir’aun yang sudah begitu lama.

Fir’aun meminta Nabi Musa untuk memperlihatkan bukti kebenaran dakwahnya. Nabi Musa melemparkan tongkatnya dan Allah jadikan seperti ular dan mengeluarkan tangannya, maka tiba-tiba mengeluarkan cahaya. Melihat mukjizat tersebut, para petinggi Fir’aun malah menuduh Nabi Musa sebagai maestro penyihir yang bertujuan mengusir Fir’aun dan para petingginya dari Mesir. Mereka meminta pendapat Fir’aun apa gerangan yang harus dilakukan untuk melawan Nabi Musa. Fir’aun mengatakan pada mereka: Tangkap dia dan saudaranya (Harun) dan bawa mereka ke lapangan besar agar ditonton oleh masyarakat banyak karena kita akan mengadu Musa dengan para tukang sihir yang ada di istana kita.

Seperti yang biasa terjadi dalam pemerintahan zalim, para tukang sihir penjilat penguasa itu bertanya kepada Fir’aun : Jika kami menang nanti, apakah kami akan menjadi orang-orang dekat istana? Dengan tegas Fir’aun menjawab: Pasti. Ketika mereka melemparkan tali-tali yang mereka sihir sehingga mengelabui mata para penonton seakan menjadi ular besar, tiba-tiba Allah wahyukan kepada Musa agar ia melemparkan tongkatnya sehingga menjadi ular yang menelan semua produk tukang sihir itu. Maka menanglah kebenaran dan kalahlah kebatilan itu. Tanpa diduga, tiba-tiba para penyihir itu sujud sambil mengakui tuhan mereka adalah Allah dan Musa adalah Rasul-Nya.

Tafsir

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply