Hari ke-86: Tadabbur Surah Al-A’raf Ayat 121-137

Ayat 121-130 meneruskan kisah sebelumya terkait Musa dengan para penyihir Fir’aun yang kalah. Di hadapan para penonton yang banyak iitu mereka mengikrarkan keimanan pada Allah, Tuhan Pencipta alam semesta, Pencipta Musa dan Harun. Mendengar ikrar tersebut, Fir’aun murka tak kepalang dan merasa dihinakan di hadapan rakyatnya karena para tukang sihir itu beriman tanpa seizinnya. Fir’aun mengancam akan memotong tangan dan kaki mereka secara silang dan kemudian menyalib mereka.

Tanpa diduga, mereka menjawab ancaman itu dengan keimanan yang mantap sambil berkata kepada Fir’aun: Silakan lakukan apa yang Anda inginkan, karena kami pasti kembali kepada Tuhan Pencipta kami. Anda dendam pada kami karena kami beriman pada ayat-ayat Tuhan Pencipta kami. Ya Tuhan Pencipta kami, anugerahkanlah kepada kami kesabaran dan matikanlah kami dalam keadaan Islam. Mendengar ungkapan yang penuh keimanan tersebut, para petinggi dan kelompok elite Fir’aun langsung menjilat dengan memprovokasinya sambil berkata: Apakah Tuan akan membiarkan Musa dan kaumnya berbuat kerusakan di muka bumi dan meninggalkan Anda serta tuhan-tuhan (patung-patung) kita yang disembah selama ini. Fir’aun menjawab dengan geram: Kita akan bunuh anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Kita sangat kuasa untuk melakukannya. Mendengar ucapan itu, Nabi Musa mengajak kaumnya untuk meminta pertolongan Allah dan mengharapkan mereka sabar menghadapi kejahatan Fir’aun dan para petinggi istananya. Allah akan wariskan bumi ini kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Kesudahan yang baik itu pasti milik orang yang bertakwa pada Allah. Musa meyakinkan kaumnya akan kehenacuran musuh Allah dan kemenangan mereka. Allahpun menyiksa Fir’aun dengan krisis ekonomi beberapa tahun agar ia dan elitenya dapat pelajaran.

Ayat 131-137 meneruskan cerita sebelumnya terkait azab Allah yang ditimpakan kepada Fir’aun. Ketika terjadi perbaikan ekonomi, Fir’aun mengklaim sebagai hasil kerjanya. Namun ketika terjadi krisis, ia menuduh Musa sebagai penyebabnya. Lalu masyarakat mempercayai statemen Fir’aun itu karena mayoritas mereka tidak berilmu dan malas berfikir sehingga mudah dibohongi penguasa. Bahkan mereka mengatakan kepada Musa: Apapun bukti kerasulanmu, itu hanya untuk menyihir kami dan kami tidak akan beriman. Sungguh ungkapan yang amat bodoh, karena tidak bisa membedakan antara mukjzat Allah dan sihir.

Akibat ulah mereka itu, Allah mengirimkan kepada mereka angin topan, belalang, kutu, katak dan darah yang tersebar di mana-mana bahkan dalam periuk nasi mereka. Semua itu sebagai bukti yang rinci atas Kekuasaan Allah. Menghadapi cobaan tersebut, mereka bukannya beriman, malah tetap menyombongkan diri dan melakukan berbagai dosa.

Ketika Fir’aun dan para petingginya serta kaumnya yang kafir pada Musa mendapat azab dari Allah, mereka berkata kepada Musa: Wahai Musa, berdoalah kepada Tuhan Penciptamu itu sesuai apa yang dijanjikan-Nya. Jika Dia menghilangkan dari kami azab ini kami pasti beriman kepadamu dan kami pasti menyerahkan Bani Israil kepadamu. Namun, setelah Allah angkat azab itu dari mereka, tiba-tiba saja mereka mengingkari janji yang mereka ucapkan sendiri. Disebabkan kekufuran yang luar biasa terhadap Allah dan Musa, maka Allah tenggelamkan mereka di laut merah. Tamatlah riwayat mereka kesombongan Fir’aun dan elitnya untuk selamanya.

Sunnatullah (hukum Allah) dalam membela kaum tertindas di mana saja dan kapan saja, asal mereka beriman dan sabar. Allah hancurkan Fir’aun dan manusia sejenisnya, tanpa kenal siapa dan sebesar apa kekuasaannya. Pelajaran bagi para penguasa zalim di mana saja.

Tafsir

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply