Hari ke-115: Tadabbur Surah Yunus Ayat 71-88

Ayat 71- 78 menjelaskan, Allah memerintahkan Nabi Muhammad Saw. untuk menceritakan kepada umatnya kisah Nabi Nuh dan Nabi Musa dalam menghadapi kaum mereka yang sangat durhaka pada Allah dan tidak mau menaati Rasul mereka.

Nabi Nuh telah berupaya maksimal menyampaikan agama Allah pada kaumnya selama 950 tahun. Mereka bukannya menerima keberadaan Nabi Nuh dengan senang hati, melainkan mempersoalkannya dan bahkan menganggap hanya merugikan mereka. Saking ngototnya mereka menyembah dan mengagungkan berhala-berhala yang mereka pertuhankan itu, Nabi Nuh sampai menantang mereka jika tuhan-tuhan mereka itu dapat mencelakannya. Tentulah mustahil terjadi. Hal lain yang diingatkan Nabi Nuh ialah bahwa ia menyampaikan ajaran Tauhid sama sekali tidak mengharapkan imbalan duniawi dalam bentuk apapun, kecuali hanya pahala dari Allah. Lalu, apa alasan mereka tidak mau memahami dan menerimanya?

Semakin hari kedurhakaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya semakin meningkat. Akhirnya Allah tenggelamkan mereka dalam sebuah peristiwa banjir besar yang menenggelamkan semua permukaan bumi, termasuk gunung-gunung. Itulah akhir tragis bagi setiap kaum yang membangkang terhadap ajaran semua para Rasul Allah.

Setelah Nabi Nuh wafat, Allah mengutus beberapa Rasul-Nya kepada kaum mereka. Nasib mereka juga sama tatkala mereka membangkang pada agama Allah dan para Rasul-Nya. Termasuk Fir’aun dan para petingginya yang sombong, menuduh wahyu Allah sebagai sihir, bertahan dengan kemusyrikan dan menuduh Musa dan Harun haus kekuasaan sehingga mereka tidak mau beriman.

Ayat 79-88 masih meneruskan kisah perjuangan Nabi Musa dan Harun dalam menghadapi kejahatan dan kedurhakaan Fir’aun dan para pembesarnya.

Fir’aun bukannya menerima ajaran Tauhid yang dibawa Musa dan Harun, melainkan bersikukuh mempertahankan kemusyrikan yang mereka terima secara turun temurun dari nenek moyang mereka. Ajaran kemusyrikan telah menyelusup ke dalam diri mereka sampai ke sumsum sehingga sulit sekali mereka meninggalkannya. Sebab itu, mereka melawan Nabi Musa dan mencoba melakukan makar dengan mengadu kehebatan Nabi Musa dengan para tukang sihir yang ada di lingkaran istananya.

Saat mereka berada dalam satu lapangan dan ditonton oleh masyarakat banyak, Nabi Musa berkata: Cobalah kalian lemparkan tali-tali sihir kalian itu, saya mau lihat seperti apa jadinya. Tatkala tali-tali itu terlihat seakan seperti ular yang banyak, maka Musa berkata: Ah, ini cuma hipnotis sihir belaka dan Allah pasti melenyapkannya. Benar saja, produk-produk para penyihir itu ditelan oleh ular besar yang Allah ciptakan melalu tongkat Musa. Itu adalah salah satu cara Allah untuk memenangkan yang hak dan melenyapkan yang batil, kendati orang-orang kafir itu benci pada Allah dan Rasul-Nya.

Kendati kebenaran yang dibawa Nabi Musa sangat jelas, namun Fir’aun dan para pembesar istananya tetap tidak beriman. Namun, ada segelintir anak cucu kaumnya beriman dengan sembunyi-sembunyi karena takut pada kekejaman Fir’aun. Melihat kenyataan seperti itu, Nabi Musa mengajak kaumnya untuk bertawakal pada Allah, meminta agar Allah selamatkan mereka dari Fir’aun yang zalim. Lalu Allah perintahkan Musa dan Harun membangun rumah di Mesir dan salat di dalamnya sampai waktu yang Allah tentukan. Kemudian, Nabi Musa berdoa agar Allah hancurkan kekayaan Fir’aun dan kunci mati hati mereka.

Tafsir

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply