Hari ke-214: Tadabbur Surah Al-Qashash Ayat 1-13

Ayat 1 surat Al-Qashash diawali dengan 3 huruf Hijaiyyah (huruf Arab), yaitu, tha, sin dan mim. Dalam Al-Qur’an terdapat 29 surah yang awalnya dimulai dengan gabungan beberapa huruf seperti ini. Tidak ada yang mengetahui maknanya kecuali hanya Allah. Rasul saw. tidak pernah menjelaskan maksudnya. Demikian juga para sahabat Rasul saw. yang kepada mereka Al-Qur’an diturunkan pertama kali, tidak pernah menjelaskan apa maksudnya. Sebab itu, jumhur ulama tidak berani menafsirkannya. Mereka hanya mengatakan: Allah-lah yang Mengetahui maksudnya.

Ayat 1-5 menjelaskan bahwa  ayat-ayat Al-Qur’an itu sangat jelas. Melalui Al-Qur’an, Allah ceritakan kisah Musa dan Fir’aun untuk kaum mukmin. Karakter Fir’aun itu ialah merasa tinggi (sombong) di atas muka bumi, memecah belah kaumnya, menindas segolongan dari mereka, membantai anak-anak laki-laki dan membiarkan hidup anak perempuan. Fir’aun itu benar-benar sebagai perusak di atas muka bumi.

Allah tidak rela bila ada manusia memperbudak dan menindas masnusia lainnya. Sebab itu, Dia hendak memberikan nikmat-Nya kepada kaum Musa yang tertindas itu dan menjadikan mereka para pemimpin dan pewaris bumi, jika mereka siap menjalankan sistem-Nya.

Ayat 6-13 meneruskan kisah Musa dan Fir’aun dan bagaimana Allah mengatur skenario penyelamatan bani Israil dan penghancuran Fir’aun dan para pembesarnya sebagai berikut:

  1. Allah wahyukan kepada ibu Musa jika ia  takut keselamatan anaknya dari pembantaian Fir’aun, maka hanyutkan saja Musa yang baru lahir itu ke laut. Allah akan mengembalikannya kembali dan menjadikannya seorang rasul.
  2. Lalu, bayi  yang benama “Musa” dipungut keluarga Fir’aun agar kelak menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Kemudian istri Fir’aun, Asiah merayunya agar bayi tersebut menjadi anak kesayangan mereka dan agar tidak dibunuh karena bisa saja suati saat nanti memberikan manfaat kepada mereka atau dijadikan saja anak angkat dan masyarakat juga tidak menyadarinya.
  3. Hati ibu Musa menyesal atas perbuatannya. Nyaris ia menceritakan peristiwa itu kalau tidak Allah kuatkan hatinya agar ia menjadi orang yang beriman kepada-Nya. Untuk itu, ibu Musa menyuruh saudara perempuan Musa untuk  mengikuti dari jauh ke mana arah hanyutnya Musa, sedangkan  masyarakat tidak menyadarinya.
  4. Melalui usulan saudara perempuannya pada keluarga Fir’aun, Musa Allah kembalikan kepada ibunya untuk disusui. Begitulah cara Allah menenangkan hatinya  dan membuktikan janji-Nya adalah benar dan ditepati. Skenario Allah yang menjadi fakta besar sejarah ini  termasuk bukti kekuasaan Allah. Sayang sekali, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

 

Tafsir Ibnu Katsir

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply