Waktu untuk Melaksanakan Shalat Fardhu Disertai Dalilnya

Waktu untuk Melaksanakan Shalat Fardhu Disertai Dalilnya

Waktu untuk Melaksanakan Shalat Fardhu Disertai Dalilnya

shalat

Shalat fardhu dikenal dengan shalat wajib, maksudnya shalat lima waktu yang diwajibkan oleh Allah SWT dalam sehari semalam yang disyari’atkan pada tahun 11 dari kenabian Muhammad saw atau tahun 621 M ketika beliau dimi’rajkan. Oleh karena itu shalat disebut juga mi’rajnya kaum muslim.

Waktu Shalat Fardhu

Dalam al-Qur’an, Allah menjelaskan bahwa shalat yang difardhukan itu memiliki waktu-waktu tertentu sebagaimana firman Allah berikut:

…Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (QS. an-Nisa’/4:103)

Maka sebagai seorang muslim semestinya shalat tepat pada waktunya, karena hal tersebut merupakan perbuatan yang paling disenangi Rasulullah. Sebagaimana sabda hadis berikut:

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: aku bertanya kepada Nabi saw. perbuatan (amal) apakah yang paling disukai oleh Allah? Nabi menjawab: shalat pada waktunya. HR. Bukhari (Fadlus Shalât li Waqtiha: 504).

Waktu-waktu yang ditentukan tersebut ada lima, sebagaimana terdapat dalam ayat dan hadis berikut:

Dirikanlah shalat pada dua tepi siang (dhuhur dan ashar) dan pada sebagian dari malam hari (magrib dan isya), sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghilangkan kejahatan-kejahatan. Itulah peringatan bagi semua orang yang mau ingat (QS. Hud/11: 115)

Dirikanlah shalat sesudah tergelincir matahari hingga gelap malam dan dirikanlah shalat Shubuh, bahwasannya shalat Shubuh itu adalah shalat yang disaksikan Malaikat (QS. al-Isra’/17: 78)

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Waktu Dhuhur ialah bila matahari telah tergelincir sampai bayang-bayang seseorang sama panjang dengan badanya, yakni sebelum datang waktu Ashar. Dan waktu Ashar ialah belum sampai matahari belum kuning cahayanya, dan waktu Maghrib selama syafak atau awan merah belum lagi lenyap. Waktu shalat Isya sampai tengah malam kedua, sedang waktu shalat Subuh mulai terbitnya fajar sampai terbitnya matahari. Jika matahari telah terbit hentikanlah shalat, karena dia terbit diantara dua tanduk syetan.” HR. Muslim (Awqâtus Shalawâtu al-Khamsu: 1419)

Disimpulkan waktu-waktu shalat fardhu itu adalah:

1.       Shalat Dhuhur

Waktu shalat dhuhur mulai dari tergelincirnya matahari hingga panjang bayang-bayang sesuatu sama dengan tingginya. Sesuai dengan hadits dari Ibnu Abbas ra, Rasulallah saw bersabda:

“Jibril datang mengimamiku di sisi Baitullah sebanyak dua kali. Pertama kali, ia shalat dhuhur ketika kadar bayangan matahari semisal tali sandal. Ia shalat ashar ketika bayangan benda sama dengan bendanya. Ia shalat maghrib ketika orang yang puasa berbuka. Ia shalat isya ketika syafaq telah tenggelam. Ia shalat fajar bersamaku ketika makan dan minum telah diharamkan bagi orang yang puasa. kemudian Jibril kembali shalat dhuhur yang kedua kalinya. Ia shalat dhuhur saat bayangan benda sama dengan bendanya. Ia shalat ashar saat bayangan benda dua kali bendanya. Ia shalat maghrib seperti waktu shalat pertama (ketika orang yang puasa berbuka). Ia shalat isya ketika telah berlalu sepertiga malam. Dan ia shalat fajar ketika bumi kemerah-merahan. Kemudian ia menoleh kepadaku seraya berkata, “Wahai Muhammad, inilah waktu shalat para nabi sebelummu dan waktunya berada di antara dua waktu yang ada.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dll)

2.       Shalat Ashar

Waktu shalat ashar mulai dari keluarnya waktu shalat dhuhur (hadist tersebut di atas), hingga terbenam matahari. Dari Abu Hurairah ra, Rasulallah saw bersabda:

“Barangsiapa shalat Subuh satu raka’at sebelum terbit matahari maka ia telah mendapatkannya, dan barangsiapa shalat Ashar sebelum tenggelam matahari maka ia telah mendapatkanya” (HR Bukhari Muslim)

3.       Shalat Maghrib

Waktu shalat maghrib mulai dari terbenam matahari (hadits tersebut di atas) hingga hilang sinar merah ketika matahari tenggelam.Rasulallah saw bersabda:

“Waktu shalat Maghrib sebelum tenggelamnya syafaq” (HR Muslim)

4.       Shalat Isya’

Waktu shalat isya’ dimulai jika telah hilang syafaq yaitu sinar merah di langit (hadist tersebut di atas) sampai terbit fajar shadiq (fajar kedua). Dari Abi Qatadah ra, Rasulallah saw bersabda:

“Orang yang ketiduran tidak dikatakan tafrith (meremehkan). Sesungguhnya yang dinamakan meremehkan adalah orang yang tidak mengerjakan shalat sampai datang waktu shalat berikutnya.” (HR. Muslim)

5.       Shalat Subuh

Shalat subuh dimulai dari terbitnya fajar shadiq yaitu fajar kedua (hadits tersebut di atas) hingga terbit matahari.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulallah saw bersabda: “Barangsiapa shalat Subuh satu raka’at sebelum terbit matahari maka ia telah mendapatkannya” (HR Muslim)

Amaliyah
Logo